Halaman

Jumat, 05 April 2013

OTOBIOGRAFI


GORESAN – GOREAN TINTA PERJALANAN HIDUPKU
Ellysa Risnawati (A310120125)

Ayah dan Ibu Adalah Guru Hidupku
Namaku Ellysa Risnawati. Lahir pada tanggal 30 Mei tahun 1994. Aku lahir dari pasangan suami istri bernama Muntolib dan Trisula Handayani. Sepasang suami istri yang menurutku sangat luar biasa dalam mendidik putra – putrinya. Pasangan yang dengan segenap jiwa dan raga mengais risky yang halal demi menghidupi buah hatinya. Dalam asuhan ayah dan ibu aku tumbuh dalam keluarga sederhana namun bahagia. Ayah selalu berusaha memenuhi keingininan anaknya karena ayah adalah tipikal orang yang selalu ingin menjadi ayah yang baik dengan cara menuruti setiap keinginan anaknya. Mungkin bagi ayah memanjakan putra dan putrinya adalah sebagai tanda syukur kepada Allah atas karuniaNya karena telah diberi kepercayaan menimang seorang anak. Ayah adalah seorang pekerja keras dan sangat sabar. Bahkan ayah cenderung pendiam. Berbeda dengan ibu, beliau adalah sosok yang tegas namun bijak dalam mengambil keputusan. Seolah sikap ibu ini mengimbangi sikap ayah yang lebih lunak terhadap anak – anaknya.
Ayah menurut pandanganku merupakan sosok yang taat beragama. Terbukti sejak kecil aku mulai diperkenalkan dengan agama yang kami peluk. Sejak aku umur 5 tahun, aku mulai diajarkan solat dan mengaji, bahkan saat tiba bulan Ramadhan ayah mengajarkan aku untuk latihan berpuasa. Lain lagi dengan ibu, beliau seorang guru Matematika. Beliaulah yang mengajariku hal – hal yang bersifat akademis. Ibu selalu menjadi professor pertamaku saat aku kesulitan megrjakan PR yang diberikan oleh guru di sekolah. Dengan sabarnya dia menjawab setiap kesulitan yang aku tanyakan padanya. Ayah dan ibu juga sering memberikan nasihat – nasihat yang baik untuk bekal hidupku kelak. Jika aku melihat beliau aku seperti melihat pejalanan yang berat dan berhasil mereka tempuh dengan baik kerana memiliki keyakinan. Ayah bilang, jika engkau yakin dan berusaha serta diiringi doa, Allah pasti akan selalu memberikan jalan yang mudah bagi hidupmu.
Ayah dan ibu adalah guru hidupku. Guru yang mengajarkan bagaimana dan untuk apa aku hidup di dunia ini. Ayah juga sering menceritakan kisah – kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad. Beliau ingin sekali jika anak – anaknya dapat menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan dalam hidup. Mungkin karena inilah nama kakak laki – lakiku menggunakan Muhammad sebagai nama depannya. Ayah bermimpi memiliki cita – cita yang luhur. Beliau ingin menjadi ayah sekaligus suami yang baik bagi anak dan istrinya, oleh karenanya penting baginya memberikan bekal hidup yang baik untukku dan kakak – kakakku agar tidak salah jalan nantinya.
Bagiku memiliki mereka adalah harta sekaligus karunia terbesar dalam hidupku. Terimakasih untuk ayah dan ibu telah menjadi lentera dalam perjalanan panjangku di dunia ini. Aku sangat menyayangi kalian.

Riak – Riak Kecil Mulai Menghiasi
Aku adalah seorang anak yang cukup sulit menerima masukan dari orang lain. aku enggan menerima kritik dari orang lain. karena itu juga mungkin aku tumbuh menjdi anak yang paling suka membantah dan tidak sepaham dengan orang tuaku dari pada saudara – saudaraku yang lain. aku juga seorang pribadi yang sulit untuk mengalah pada siapapun karena aku merasa selau peling benar dalam berpendapat.
Waktu aku masih SD aku sering bertengkar dengan kakak laki – lakiku, entah mengapa aku merasa jika abangku yang satu ini sangat suka mengusiliku. Tentunya hal itu selalu membuatku marah. Namun setiap aku mengadu pada ibu berharap mendapatkan pembelaan, ibu selau saja menyalahkanku. Aku pikir ibu pilih kasih, namun lambatlaun akau mulai mengerti bahwa sikap ibu yang seperti itu sebenarnya ingin mengajarkan aku sabar dan sedikit mengalah. Ibu juga pernah berkata bahwa sikap abangku yang sering menggodaku itu adalah ungkapan rasa perhatiannya padaku. Setelah dewasa aku ridu digoda oleh abangku karena aku harus berpisah darinya untuk menuntut ilmu di kota Solo.
Tak hanya konflik dengan keluarga, aku juga sering mengalami konflik dengan teman – temanku karena sifat egoismeku ini yang berlebihan. Pada waktu SMA aku bahkan pernah tak bertegur sapa dengan sahabatku selama satu bulan hanya karena masalah sepele. Dan itu juga yang membuatku berfikir bahwa sikapku selama ini salah. Seiring dengan berjalannya waktu akupun mulai mencoba untuk menghilangkan sifat burukku ini. Setidaknya sekarang aku lebih bisa mengendalikan diriku dari pada dulu. Namun sekuat – kuatnya aku mencoba mengendalikan diriku, masih saja rasa mengganjal dihatipun muncul. Apa lagi saat aku berselisih paham dengan kekasihku. Lebih sering aku tak akan mau mengalah. Mungkin karena itulah yang membuat kami sering bertengkar. Dia memiliki sifat yang kekanak – kanakan sedangkan aku lebih keras dan egois. Tak khayal saja tiap hari percekcokan selalu menghiasi jalinan asmara yang sedang kami lalui bersama.

Aku dan Keluargaku Dari Penglihatanku
Seperti yang aku utarakan diawal, aku adalah seorang gadis yang terlahir dalam keluarga yang sederhana di kota Blora. Aku memiliki karakter atau sifat yang keras, egoisme yang tinggi serta aku mudah marah jika sutau hal tidak berjalan sesuai rencanaku. Namun setelah dewasa teman – teman berpendapat bawa aku adalah sosok yang sangat dewasa dan nyaman untuk diajak curhat. Kusadari pula bahwa aku telah banyak berubah. Lebih sedikit pendiam dan malas bergaul. Entah mengapa semenjak kuliah aku jadi orang yang tak ingin berlama – lama berbincang dengan teman. Namun jika ada seorang dari mereka memintaku untuk menjadi teman sharing maka dengan senang hati aku akan menerimanya. Aku sangat menyukai artis – artis dan budaya dari Korea. Entah mengapa aku selalu tertarik dengan keunikan mereka. Idolaku adalah penyanyi sekaligus aktor Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa dari CN Blue. Hobiku adalah menyanyi dan membaca buku. Entah mengapa dalam keadaan seperti apapun aku selalu menyanyi. Seolah menghibur diri menyanyi jadi alternatif saat aku merasa galau. Namun jika aku menyayi lagu korea maka teman – temanku akan memprotesnya karena tidak tahu arti dari lirik lagu yang aku nyanyikan. Aku penyuka puisi dan cerpen. Banyak karya – karya yang telah aka buat, namun aku belum memiliki keberanian untuk menerbitkannya pada sebuah redaksi. Karena ini pula lah aku memlih jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Aku suka sastra dan aku ingin menjadi guru. Sebuah cita – cita yang mulia tentunya.
            Berbeda dengan anak pertama dari ayah dan ibuku, yang tak lain adalah kakak perempuanku. Namanya Anis Arum Nuraeni, panggilannya mbak Anis. Dia terlahir pula di kota Blora, namun di dibesarkan di kota Pati karena sejak umur 5 tahun dia diasuh oleh Budhe Dwi, kakak perempuan ibuku. Mbak anis adalah sosok yang sedikit galak namun suka bercanda. Dia juga menyukai hal – hal yang berbau Inggris dan Amerika. Band faforitnya adalah Linking Park, dia juga telah lulus dari Akademi Keperawatan Blora sekitar 4 tahun yang lalu. Kini mbak Anis bekerja di Dinas Kesehatan kabupaten Blora sebagai staff. Usianya 23 tahun, mungkin dia akan segera menikah karena telah memiliki calon pendamping hidup. Semoga saja cepat terjadi. Mbak Anis memiliki sifat yang sabar bisa dibilang sering mengalah pada adik – adiknya. Namun terkadang dapat menjadi sangat pemarah saat sesuatu berjalan tak sesuai dengan kehendaknya.
            Muhammad Yusuf Kurniawan atau akrab kusapa Bang Yoss. Adalah kakak keduaku sekaligus kakak laki – lakiku. Lahir pada tanggal 24 Maret sekitar 20 tahun yang lalu. Abangku yang sering mengusiliku namun sangat menyayangiku. Aku teringat saat dia baru saja dapat mengendarai sepeda orang pertama yang diboncengkannya adalah aku. Abangku juga adalah orang pertama yang membelikanku Smart phone dengan uang hasil jerih payahnya. Staff pendapatan di kantor DPPKAD kabupaten Blora inilah yang menjadi salah satu saksi hidupku. Memiliki sifat yang mudah bergaul, humoris,serta suka menyanyi. Merupakan salah satu dari yang paling disayang oleh ibu diantara kami para saudara – saudaranya. Dia memiliki sifat percaya diri yang tinggi, selalu berkata bahwa dirinya sangat tampan hingga banyak anak gadis yang menyukainya karena pesonanya. Mendengar kata – kata itu aku jadi mual. Dia tak suka suatu tempat yang kotor dan tidak rapi. Anehnya dia sendiri adalah orang yang kurang rapih dan pemalas, apa lagi jika diminta membersihkan rumah atau kamarnya sendiri. Selalu saja ada alasan yang keluar dari mulutnya. Meski begitu aku menganggapnya sebagai abang terbaik di dunia.
            Sosok luar biaa selanjutnya yang akan aku ceritakan adalah ayahku. Di awal telah ada sedikit penjelasan, bahwa ayaku benama Muntolib. Beliau adalah pria yang lahir di kota Blora pula tepatnya pada taggal 21 April tahun 1964. Seorang PNS di Kantor SETWAN kabupaten Blora ini adalah Pria yang humoris, pekerja keras, namun sedikit tertutup. Dia juga tipikla pria yang soleh, terbukti pernah menempuh pendidikan di pondok pesantren ketika beliau duduk di bangku SMA. Menjadi ayah sekaligus suami yang luar biasa dalam pandanganku. Aku ingat ketika Idul Fitri beberapa tahun yang lalu ketika keadaan ekonomi keuarga sedang sedikit terpuruk, ayah tak memebeli sehelaipun pakaian baru untuk merayakan hari besar umat Islam tersebut. Namun bagi istri dan juga anak – anaknya dibebaskan memilih dan membeli baju baru di toko manapun sesuai selera masing – masing. Hal itu juga terjadi pada beberapa kesempatan. Dari sikap ayah yang seperti itu aku berpendapat bahwa ayah adalah sosok yang dermawan dan mau mengalah demi kebahagian keluarganya. Namun ada sifat buruk ayah yang dibenci oleh seluruh anggota keluarga. Yaitu jika ayah mengalami masalah atau kesulitan maka beliau tak akan pernah membaginya dengan keluarga. Dia akan menyelesaikan masalah itu sendiri walu berat bagi dirinya. Bagiku ayah tetaplah sosok pria paling luar biasa di dunia ini. Maka akupun akan menjadi anak yang luar biasa untuk ayahku tercinta.
            Belahan jiwa ayah adalah ibuku. Wanita yang lahir dikota yang sama denganku ini memiliki sifat yang keras, penuh pertimbangan, cermat dan penuh kasih saying kepada keluarga. Wonder woman kami ini lahir pada tanggal 17 April tahun 1963 ini memang satu tahun lebih tua dari ayah. Namun kedewasaanya jauh lebih tinggi dari pada beliau. Ibuku atau yang sring aku panggil mamah ini adalah sorang guru Matematika di salah satu sekolah swasta di kabupaten Blora. Kata murid – muridnya mamah adalah guru yang galak saat mengajar, untuk yang satu ini aku sangat sependapat. Tetapi aku percaya bahwa sikap beliau yang keras inilah yang digunakan untuk mendidik putra – putrinya menjadi insane yang mandiri dan tegar. Wataknya yang seperti ini mungkin diperoleh dari masa kecilnya. Maklum keadaan nenek dulu saat membesarkan ibu bisa dibilang sangat memprihatinkan. Mamah bisa dibilang pahlawan dalam keluarga karena keberhasilan yang dicapai oleh anak dan suaminya tak lepas dari perannya yang sangat luar biasa sebagai seorang ibu. Jika aku boleh mengatakan, aku sangat bangga dilahirkan dari rahim ibu yang sangat istimewa. Mamah dek Lisa sangat mencintaimu.

Kebahagiaan itu Datang Saat Kami Bersama
Bersyukur adalah kata – kata ajaib yang penuh dengan sejuta makana. Kata ayah dan ibu keluarga kami selalu bahagia karena kami selalu bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Allah. SWT. Bagi kami saat serkumpul bisa saling bercerita dan mengobrol adalah saat yang paling indah. Kami dapat saling bertukar pikiran, saling member nasihat serta saran terbaik bagi pribadi masing – masing. Hidup sederhana itu sebuah anugrah kata mamah. Banyak orang yang hidup dengan bergelimangan harta namun selau merasa gelisah dan tak bahagia. Apa lagi yang dicari orang yang hidup di dunia ini jika tak kebahagiaan? Untuk apa harta jika selalu saja merasa sengsara. Meski banyak kekurangan dalam keluaraga kami, aku merasa sangat bahagia karena memiliki ayah, ibu, mbak Anis dan bang Yoss adalah karunia terbesar dalam hidupku. Tak ada harta yang paling berharga selain keluarga, itu adalah keyakinanku. Akupun percaya jika kita saling menjaga keharmonisan dengan kaluarga, teman, dan saudara maka sebesar apaun masalah yang akan kita hadapi akan terasa ringan karena kita memiliki mereka.
Hari ini aku menerima pesan singkat dari ibu yang memebrikan nasihat yang sangat berguna. Sekali lagi aku sangat berterimakasih pada ibu serta seluruh keluargaku. Mereka adalah penunjang setiap tahap keberhasilanku. Tanpa mereka aku tak akan bisa menjadi seperti ini. Berkuliah di Universitas yang cukup ternama di Indonesia dan menjadi anak yang cukup mampu di andalkan oleh ayah dan mamah. Tak ada imbalan yang paling indah selain kerja kerasku agar mendapat IPK yang baik serta menjai lulusan yang mampu diandalkan dan guru yang teladan. Saat ini mungkin hanya sebuah harapan. Namun aku percaya dengan segala kekuatan dan keuletan aku akan mampu mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar