Halaman

Rabu, 26 Juni 2013

Resensi trilogi nvel Ronggeng Dukuh Paruk


Judul               : Ronggeg Dukuh Paruk                        


Jenis                : Fiksi
Penulis             : Ahmad Tohari
Tahun Terbit    : Gramedia Pustaka Umum
Tempat Terbit  : Jakarta
Tebal               : 408 halaman
Ukuran             : 21 cm
Jenis Cover      :Soft Cover
Harga Buku     : Rp 65.000
No. ISBN        : 978-979-22-7728-9
Selera              : menggambarkan kehidupan masyarakat yang terpencil, bodoh, cabul, dan penyakitan serta tak tersentuh oleh perkembangan jaman sehingga membuat mereka membuat aturan sendiri bagi kehidupan yang lain dari pada yang lain sehingga menarik banyak perhatian bagi penulis. Tak lupa keberanian Ahmad Tohari yang merupakan satu – satunya penulis yang berai mengangkat tema komunisme membuat cerita ini menjadi semakin bekesan.
      Buku ini meruakan sebuah trilogi penyatuan tiga buku karya Ahmad Tohari yang begitu tersohor selama 22 tahun, yaitu Ronggeng Dukuh Paruk, Jentera Biang Lala, serta Lintang kemukus Dini Hari. Mengambil seting tahun 60an yang menggambarkan masyarakat dusun yang bodoh, sakit – sakitan, serta taat dengan aturan adat yang telah berlaku turun – temurun. kepercayaan yang tinggi akan arwah nenek moyang membuat warga dukuh paruk tidak memiliki keinginan untuk maju. Kepercayaan bahwa hanya di tempat itulah meraka akan hidup dan akan mati pula seolah menjadi jawaban dari setiap pertanyaan mengapa begitu memprihatinkan keadaan yang ada di pedukuhan yang kecil serta miskin itu. Tak ada greget untuk memperbaiki nasib. Semuanya “narimo ing pandhum” atau menerima apa adanya takdir yang tuhan berikan. Seolah – olah semua bencana yang mereka alami adalah sebuah keharusan karena telah menjadi takdir yng harus dilalui.
Dukuh paruk sendiri merupakan pedukuhan kecil yang menyendiri. Dalam buku ini juga dikisahkan lika – liku perjalanan wanita yang telah dinobatkan menjadi seorang ronggeg sekaligus pusat dari kehidupan dukuh paruk, karena tanpa ronggeg serta alunan calung, dukuh paruk akan mejadi sepi bak tak berpenduduk. Begitu jelas penggambaran seorang ronggeng dalam buku ini, tak hanya menggambarkan ronggeng dari segi luarnya aja namun juga dari segi dalam. Bahwa seorang ronggeng harus melewati beberapa syarat agar dia sah dinobatkan sebagai ronggeng. Banyak upacara – upacara yang harus dilalui, pemasangan susuk atau penglaris juga dibenarkan dalam hal ini. Aturan – aturan yang mengikat seperti seorang ronggeng tidak boleh jatuh cita juga digambarkan secara jelas di sisni.
Lebih mendalam lagi buku ini mendiskripsikan secara khusus kehidupan pribadi sosok Srintil seabagai seorang wanita. Wanita yang ingin mendapat perhatian, wanita yang ingin dipuja oleh kaum lelaki, serta wanita yang memiliki figur seorang ibu dengan segala tanggung jawabnya. Wanita yang mendambakan perlindungan serta penghargaan yang tinggi atas dirinya dan yang paling penting adalah wanita yang ingin mencintai dan dicintai. Hal itu menjadi kontras ketika mengingat status Srintil sebagai seorang ronggeng yang menurut pendapat banyak orang yang berpendidikan tak lebih dari seorang pelacur, namun bagi orang dukuh paruk ronggeg adalah pusat kehidupan, pusat keselarasan dan penghiburan yang tiada duanya. Semua itu menjadika keunikan bagi kehidupan masyarakat dukuh paruk. Dukuh yang kecil, tersembunyi, bodoh dan sakit inilah yang membuat para penduduknya tersangkut dalam kasus dan peristiwa besar yaitu gerakan 30 september.
      Tentang penulis sendiri adalah seorang yang lahir di desa Tinggarjaya, kecamatan Jatilawang, Banyumas, 13 Juni 1948. Beliau hanya menyelesaikan pendidikan formalnya hingga SMA di SMA N II Purwokerto. Pendidikan tak hanya berhenti di situ bagi Ahmad Tohari. Beliau juga menjelajahi beberapa fakultas seperti Ekonomi, Sosial Politik, dan Kedokteran namun tidak ditekuni sehingga tidak menghasilkan gelar bagi dirinya. Namun demikian ilmu yang di dapat cukup membuatnya menjadi penulis yang berhasil mendiskripsikan begitu banyak cerita yang dapat dimengerti oleh banyak pembaca.
      Novel pertama Ahmad Tohari berjudul Di Kaki Bukit Cibalak berhasil diterbitkannya pada tahun 1977. Lalu disusul oleh Kubah (PT Dunia Pusaka Jaya). Seiring berjalannya waktu lahir pula karya ke 3 yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk yang bisa dikatakan novel yang sangat berhasil kala itu yang dilanjutkan oleh Lintang kemukus Dini hari yang sekaligus dijadikan trilogi dan diterbitkan oleh Gramedia.
            Srintil seorang anak yang lahir dari pasangan ibu dan ayah pembuat tempe bongkrek yang entah karena kesalahan tenik pembuatan atau adanya bakteri pada makanan tersebut telah menjadikan bencana bagi warga. Hampir seluruh warga di pedukuhan kecil berpenduduk kuarang lebih 20 kepala keluarga ini tewas akibat keracunan tempe bongrek buatan orang tua Srintil. Gadis yang juga adalah cucu dari Sakarya seorang kamitua atau yang dituakan di tempat itu adalah sosok yang senang sekali menari, dia juga pandai menembang dan bercita – cita menjadi ronggeng. Dukuh paruk sendiri adalah tempat kelahiran Srintil dengan segala keunikannya. Dukuh paruk yang cabul, bodoh, lugu dan penyakitan. Dukuh paruk yang terpencil dan menciptakan aturan hidupnya sendiri. Dukuh paruk yang menjadikan makam leluhurnya yaitu eyang Secamenggala sebagai tempat yang diagungkan. Serta dukuh paruk yang terkenal akan ronggengnya.
Srintil resmi dijadikan ronggeng saat dia berusia 11 tahun. Usia yang masih sangat belia untuk menjalankan tanggung jawab yang besar. Banyak prosesi yang harus dilakukan untuk menjadi seorang ronggeng. Baik upacara penyembahan, mandi dengan berbagai jenis bunga, memakai susuk dan penglaris, serta yang paling penting adalah melewati prosesi akhir yang bernama buka klambu, yang bearti menyerahkan keperawanan kepada laki – laki yang bukan suaminya asalkan mampu membayar harga yang telah ditetapkan oleh dukun ronggeng selaku guru atau orang yang berhak menobatkan seorang gadis menjadi ronggeng. Pada titik inilah konflik mulai terjadi, Rasus seorang bocah lelaki yang merupakan sahabat sekaligus pemuja sosok Srintil yang karena telah kehilangan ibunya dan menempatkan bayangan ibunya pada sosok Srintil tak kuasa dan tak rela melihat kesucian Srintil direnggut begitu saja oleh orang lain. terjadi pula pergolakan perasaan yang akhirnya membuat Srintil menyerahkan Keperawananya kepada orang yang bisa dikatakan istimewa di hati nya yaitu Rasus. Namun keinginan untuk menjadi seorang ronggeng membuat Srintil tetap pada pendirianya.
Ketika Srintil telah mencapai puncak ketenarannya sebagai ronggeng, jusrtu Rasus merasa tak menginginkan Srintil lagi. Rasus yang telah menjadi seorang Tamtama Tentara merasa srintil bukan lagi sosok yang dipujanya dengan segala kesucian. Rasus ingin memiliki Srintil seutuhnya, bukan seorang ronggeng yang dapat digilir oleh lelaki manapun. Hal tersebutlah yang membuat rasus meninggalkan Srintil dan lebih memfokuskan dirinya menjadi seorang Tentara. Srintil patah hati, tak ada semangat hidup lagi semenjak di tinggal oleh Rasus sosok lelaki yang dicintainya. Tak ada lagi keinginan untuk meronggeg, tak ada hasrat lagi untuk menjadi wanita yang dipuja dan mampu mengendalikan perasaan lelaki manapun. Srintil hanya ingin rasus. Ingin menjadi wanita yang seutuhnya wanita. Wanita yang suci dan ikut berperan dalam kehidupan keluarga. Wanita yang mencintai dan dicintai oleh seorang lelaki yang istimewa dihatinya.
Dihadapakan pada keadaan yang membingungkan membuat ronggeng dukuh Paruk itu kian dilema. Di satu sisi dia harus menjalankan perannya sebagai ronggeng yang dianggapnya sebagai amanat dari leluhur eyang Secamenggala. Namun kembali lagi menjadi ronggeng sama saja menjadi jalang, menjadi sundal, dan pelacur yang sebenarnya sangat melelahkan bagi Srintil. Di sisi lain Srintil mendambakan cinta Rasus sekaligus bermimpi menjadi wanita somhan dengan segala kesempurnaanya. Memiliki suami yang sah serta keturunan yang dapat ia jadikan sandaran jika kelak ia telah berada di usia senja.
Bagi Srintil meronggeng adalah takdir yang harus dijalaninya. Bagi orang Dukuh paruk ada peribahasa yang menjadi pedoman hidup yaitu Narimo Ing Pandhum, atau menerima apapun takdir yang diberikan oleh Tuhan. Kita sebagai hamba hanya perlu menjalaninya. Tak ada rasa bersalah dan nestapa walaupun harus hidup miskin, terpuruk, sakit – sakitan dan hidup dengan segala perbuatan cabul yang dihalalkan karena menganggap itu semua adalah bagian dari tradisi. Berbeda dengan Rasus yang menilai bahwa menjadi ronggeng adalah pilihan yang sebenarnya tak boleh dijalani oleh wanita manapun, apalagi oleh Srintil. Namun demikian getar – getar cinta tetap tumbh di hati Rasusu dan Srintil yang membuat keduanya tetap memikirkan satu sma lain walau sedang berjauhan.
Kebodohan dan kemiskinan Dukuh Paruk menjadi jalan bagi oknum – oknum komunis yang kala itu ingin menguasai Indonesia untuk merekrut pengikut. Kesenian dijadikan sebagai alat, dan kemiskinan sebagai jalan untuk semakin melebarkan paham komunis mereka. Mala petaka menimpa dukuh Paruk ketika pergantian pemerintahan membuat kebijakan untuk memberantas keberadaan komunisme di Indonesia. Semua yang terlibat di dalamnya ditangkap dan diadili menurut hukum yang berlaku kala itu. Dukuh paruk pun mendapat gilirnnya setelah peristiwa pengrusakan makan Eyang Secamanggala yang membuat hati warganya teroyak dan terluka sangat dalam, penangkapan atas warga termasuk para penabuh calung sekaligus ronggennya yang dianggap terlibat dengan komunisme semakin menambah nestapa pada kehidupan Dukuh Paruk.
Setelah beberapa bulan ditahan warga dukuh Paruk kembali. Namun ada kejanggalan, Srintil sang ronggeng kebanggaan tak ikut pulang. Hal itu terjadi karena ia masih harus menjalani proses peradilan. Dalam tahanan Srintil mendapat perlakuan berbeda dibandingkan dengan tahanan sipil yang lain karena ia cantik dan seorang ronggeng. Tidak jarang hal itu dimanfaatkan oleh orang dalam lapas tahanan. Srintil bisa plesiran pergi bersama laki – laki yang hendak membelinya dan hal tersebut semakin mengoyak harga diri srinti, yang sudah mengidam – idamkan menjadi seorang wanaita somahan. 2 tahun berselang akhirnya Srintilpun dibebaskan
Srintil masih harus menjalani wajib lapor karena dia bebas dengan syarat seperti itu. Baginya dapat kembali ke Dukuh Paruk saja sudah merupakan anugerah baginya. Kembalinya Srintil sekaligus membawa perubahan bagi dirinya. Tak ada lagi keinginan menjadi perempuan jalang yang diinginkanya hanyalah menjadi wanita somahan yang memiliki suami dan anak yang sah dan mencintainya. Hari Sintil di lambungkan lagi oleh cinta sejak kedatangan Bajus ketua Proyek waduk yang dibangun di dekat Dukuh Paruk. Tibalah kemajuan menyentuh pedukuhan yang terpencil itu.
Srintil jatuh cinta kepada Bajus, bayang – bayang Rasus mulai menghilang seiring berjalannya waktu. Bersama Bajus tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan olehnya. Perlindungan, perhatian, dan penghargaan atas dirinya di dapatkan dari sosok lelaki itu. Hingga akirnya hati Srintil kembali hancur berkeping – keping hingga membuatnya kehilangan akal sehatnya. Hal itu terjadi akibat perbuatan Bajus yang menawarkannya pada Sesorang yang berperan pada karirnya sebagai pemborong. Kembalinya Rasus ke dukuh paruk memberikan secerca harapan bagi Srintil. Dibawanya Srintil untuk disembuhkan sekaligus niatnya menyembuhkan hatinya yang telah hancur oleh harapan yang tak kunjung tercapai. Memberikan cinta dan kasihnya yang pernah ia sesali ke pada seseorang yang dipujanya, dicintainya, dan bagian dari hidupnya.
Novel fiksi yang dikategorikan sebagai bacaan sastra berat ini menggunakan bahasa yang komunikatif dan halus sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca meskipun banyak diantara meraka tidak memiliki pengetahuan sastra yang tinggi. Penggambaran tentang sosok Srintil juga terbilang sangat detail. Kewanitaannya didiskripsikan dengan sangat jelas, yang meliputi ciri – ciri, karakter, perasan sekaligus sifat yang menggambarkan diri seorang wanita yang memiliki banyak keunikan. Keinginan untuk dipuja, menjadi pusat perhatian, dicintai, mencintai, dihargai dan dilibatkan dalam setiap aspek kehidupan di tuliskan dengan sangat gamblangnya sehingga pembaca akan dengan mudah mengimajinasikan sosok Srintil.
Novel ini juga sukses membawa kita untuk mengenang kembali peristiwa komunisme pasca kemerdekaan yang hamper memporak porandakan Indonesia. Tak haya itu novel ini juga dapat membuat kita belajar bahwa manusia yang bodoh, tak mau belajar, dan tak mengenal agama dengan benar bagi tiang tanpa penyangga yang akan segera ambruk tertarik oleh grafitasi bumi. Begitupula yang terjadi pada warga Dukuh Paruk, hingga membuat mereka teroyak dan terluka hingga sangat mendalam. Novel ini juga dapat dijadikan sarana perenungan bahwa bangsa ini telah melampaui jalan yang panjang untuk menghirup udara kemerdekaan yang telah diperjuangkan denga banyak pengorbanan. Sehingga kita sebagai kaum muda harus senantiasa menjaga eksistensinya.

Kekurangan dari novel ini adalah pengadaan istilah cabul serta sumpah serapah yang banyak terdapat di dalam nya. Bagi pembaca yang memiliki pengetahuan sastra yang mumpuni hal semacam ini mungkin tak akan menimbulkan masalah krena merupakan bagian dari adat masyarakat Dukuh Paruk dan keunikan bahasa, namun bagi pembaca yang tidak memiliki latar belakang sastra akan menimbulkan polemik kerana dianggap kurang sopan dan tidak layak dibaca oleh kaum muda.
Novel ini juga menghalalkan persundalan serta perzinaan antar wagra dukuh paruk. Terbukti ada bagian awal buku digambarkan obat bagi seseorang yang mandul adalah lingga atau liang tetangga. Dapat diartikan bahwa seorang suami/ istri yang madul dapat berhubungan kelamin dengan tetangganya agar dapat memperoleh keturunan. Aturan seperti itu mungkin tidak masalah bagi orang – orang yang masih mempercayai hokum adat, namun bagi masyarakat modern hal semacam itu akan menimbulkan polemik berkepanjangan. Selain itu kepercayaan akan adat istiadat yang tinggi sehingga menolak kebudayaan baru yang masuk dapat memunculkan sikap etnosentrisme bagi seseorang.

Menjadi bahan pembanding adalah film Sang Penari yang menjadikan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk sebagai inspirasi yang berhasil masuk sebgai kategori film Terbaik pada tahun 2011 yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah. Film ini menceritakan kisah cinta antara dua insan yang terlahir di Dukuh Paruk yang memiliki perbedaan paham dalam kehidupan. Kisah cinta antara Srinril sebagai seorang Ronggeng dan Rasus sebagai Tentara, yang menginginkan Srintil sebagai wanita yang seutuhya wanita bukan sebagai Ronggeng yang bisa dinikmati raganya oleh lelaki manapun. Film ini bersetingkan tahun 65an dan diselingi dengan peristiwa G 30 September.
Meskipun menjadi inspirasi film tersebut banyak cerita – serita yang tidak divisulkan dalam film tersebut. Terlebih lagi setelah dicermati lebih dalam lagi banyak terjadi perbedaan antara film dan novel. Seperti  penggabaran Srintil yang dinobatkan menjadi seorang ronggeng pada usianya yang menginjak 11 tahun di versi novelnya. Namun pada versi film sosok Srintil dinobatkan menjadi ronggeng saat menginjak usia dewasa. 
Penggambaran sosok Bajaus lelaki yang juga pernah mengisi hati srintil juga ditiadakan dalam filmnya. Meskipun dikategorikan dalam film terbaik, Sang Penari belum cukup mampu menggambarkan trologi novel Ronggeng Dukuh Paruk  dengan sangat gamblang.

Ronggeng dukuh paruk merupakan Trilogi penyatuan 3 novel yang terkenal selama 22 tahun karya Ahmad Tohari yaitu Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala. Menceritakan kehidupan masyarakat pedukuhan yang tepencil, bodoh, cabul, dan sakit – sakitan. Berserting tahun 65an dan diselingi peristiwa G 30 sseptember. Kisah cinta yang penuh tantangan dan rintangan menguri kesedihan dan perjuangan demi sebuah kebahagiaan. Perbedaan paham antara anggapan diri Sirntil sebagai sosok wanita jalang atau somahan menjadi sumber konflik yang mengiasi kisah ini.