Judul : Ronggeg Dukuh Paruk
Jenis : Fiksi
Penulis : Ahmad Tohari
Tahun
Terbit : Gramedia Pustaka Umum
Tempat
Terbit : Jakarta
Tebal : 408 halaman
Ukuran : 21 cm
Jenis
Cover :Soft Cover
Harga
Buku : Rp 65.000
No.
ISBN : 978-979-22-7728-9
Selera :
menggambarkan kehidupan masyarakat yang terpencil, bodoh, cabul, dan penyakitan
serta tak tersentuh oleh perkembangan jaman sehingga membuat mereka membuat
aturan sendiri bagi kehidupan yang lain dari pada yang lain sehingga menarik
banyak perhatian bagi penulis. Tak lupa keberanian Ahmad Tohari yang merupakan
satu – satunya penulis yang berai mengangkat tema komunisme membuat cerita ini
menjadi semakin bekesan.
Buku
ini meruakan sebuah trilogi penyatuan tiga buku karya Ahmad Tohari yang begitu
tersohor selama 22 tahun, yaitu Ronggeng Dukuh Paruk, Jentera Biang Lala, serta
Lintang kemukus Dini Hari. Mengambil seting tahun 60an yang menggambarkan
masyarakat dusun yang bodoh, sakit – sakitan, serta taat dengan aturan adat
yang telah berlaku turun – temurun. kepercayaan yang tinggi akan arwah nenek
moyang membuat warga dukuh paruk tidak memiliki keinginan untuk maju.
Kepercayaan bahwa hanya di tempat itulah meraka akan hidup dan akan mati pula
seolah menjadi jawaban dari setiap pertanyaan mengapa begitu memprihatinkan
keadaan yang ada di pedukuhan yang kecil serta miskin itu. Tak ada greget untuk
memperbaiki nasib. Semuanya “narimo ing pandhum” atau menerima apa adanya
takdir yang tuhan berikan. Seolah – olah semua bencana yang mereka alami adalah
sebuah keharusan karena telah menjadi takdir yng harus dilalui.
Dukuh paruk sendiri merupakan pedukuhan
kecil yang menyendiri. Dalam buku ini juga dikisahkan lika – liku perjalanan
wanita yang telah dinobatkan menjadi seorang ronggeg sekaligus pusat dari
kehidupan dukuh paruk, karena tanpa ronggeg serta alunan calung, dukuh paruk
akan mejadi sepi bak tak berpenduduk. Begitu jelas penggambaran seorang
ronggeng dalam buku ini, tak hanya menggambarkan ronggeng dari segi luarnya aja
namun juga dari segi dalam. Bahwa seorang ronggeng harus melewati beberapa
syarat agar dia sah dinobatkan sebagai ronggeng. Banyak upacara – upacara yang
harus dilalui, pemasangan susuk atau penglaris juga dibenarkan dalam hal ini.
Aturan – aturan yang mengikat seperti seorang ronggeng tidak boleh jatuh cita
juga digambarkan secara jelas di sisni.
Lebih mendalam lagi buku ini
mendiskripsikan secara khusus kehidupan pribadi sosok Srintil seabagai seorang
wanita. Wanita yang ingin mendapat perhatian, wanita yang ingin dipuja oleh
kaum lelaki, serta wanita yang memiliki figur seorang ibu dengan segala
tanggung jawabnya. Wanita yang mendambakan perlindungan serta penghargaan yang
tinggi atas dirinya dan yang paling penting adalah wanita yang ingin mencintai
dan dicintai. Hal itu menjadi kontras ketika mengingat status Srintil sebagai
seorang ronggeng yang menurut pendapat banyak orang yang berpendidikan tak
lebih dari seorang pelacur, namun bagi orang dukuh paruk ronggeg adalah pusat
kehidupan, pusat keselarasan dan penghiburan yang tiada duanya. Semua itu
menjadika keunikan bagi kehidupan masyarakat dukuh paruk. Dukuh yang kecil,
tersembunyi, bodoh dan sakit inilah yang membuat para penduduknya tersangkut
dalam kasus dan peristiwa besar yaitu gerakan 30 september.
Tentang
penulis sendiri adalah seorang yang lahir di desa Tinggarjaya, kecamatan
Jatilawang, Banyumas, 13 Juni 1948. Beliau hanya menyelesaikan pendidikan
formalnya hingga SMA di SMA N II Purwokerto. Pendidikan tak hanya berhenti di
situ bagi Ahmad Tohari. Beliau juga menjelajahi beberapa fakultas seperti
Ekonomi, Sosial Politik, dan Kedokteran namun tidak ditekuni sehingga tidak
menghasilkan gelar bagi dirinya. Namun demikian ilmu yang di dapat cukup
membuatnya menjadi penulis yang berhasil mendiskripsikan begitu banyak cerita
yang dapat dimengerti oleh banyak pembaca.
Novel
pertama Ahmad Tohari berjudul Di Kaki Bukit Cibalak berhasil diterbitkannya
pada tahun 1977. Lalu disusul oleh Kubah (PT Dunia Pusaka Jaya). Seiring
berjalannya waktu lahir pula karya ke 3 yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk yang
bisa dikatakan novel yang sangat berhasil kala itu yang dilanjutkan oleh
Lintang kemukus Dini hari yang sekaligus dijadikan trilogi dan diterbitkan oleh
Gramedia.
Srintil
seorang anak yang lahir dari pasangan ibu dan ayah pembuat tempe bongkrek yang
entah karena kesalahan tenik pembuatan atau adanya bakteri pada makanan
tersebut telah menjadikan bencana bagi warga. Hampir seluruh warga di pedukuhan
kecil berpenduduk kuarang lebih 20 kepala keluarga ini tewas akibat keracunan
tempe bongrek buatan orang tua Srintil. Gadis yang juga adalah cucu dari
Sakarya seorang kamitua atau yang dituakan di tempat itu adalah sosok yang
senang sekali menari, dia juga pandai menembang dan bercita – cita menjadi
ronggeng. Dukuh paruk sendiri adalah tempat kelahiran Srintil dengan segala
keunikannya. Dukuh paruk yang cabul, bodoh, lugu dan penyakitan. Dukuh paruk
yang terpencil dan menciptakan aturan hidupnya sendiri. Dukuh paruk yang
menjadikan makam leluhurnya yaitu eyang Secamenggala sebagai tempat yang
diagungkan. Serta dukuh paruk yang terkenal akan ronggengnya.
Srintil resmi dijadikan ronggeng saat
dia berusia 11 tahun. Usia yang masih sangat belia untuk menjalankan tanggung
jawab yang besar. Banyak prosesi yang harus dilakukan untuk menjadi seorang
ronggeng. Baik upacara penyembahan, mandi dengan berbagai jenis bunga, memakai
susuk dan penglaris, serta yang paling penting adalah melewati prosesi akhir
yang bernama buka klambu, yang bearti
menyerahkan keperawanan kepada laki – laki yang bukan suaminya asalkan mampu
membayar harga yang telah ditetapkan oleh dukun ronggeng selaku guru atau orang
yang berhak menobatkan seorang gadis menjadi ronggeng. Pada titik inilah
konflik mulai terjadi, Rasus seorang bocah lelaki yang merupakan sahabat
sekaligus pemuja sosok Srintil yang karena telah kehilangan ibunya dan
menempatkan bayangan ibunya pada sosok Srintil tak kuasa dan tak rela melihat
kesucian Srintil direnggut begitu saja oleh orang lain. terjadi pula pergolakan
perasaan yang akhirnya membuat Srintil menyerahkan Keperawananya kepada orang
yang bisa dikatakan istimewa di hati nya yaitu Rasus. Namun keinginan untuk
menjadi seorang ronggeng membuat Srintil tetap pada pendirianya.
Ketika Srintil telah mencapai puncak
ketenarannya sebagai ronggeng, jusrtu Rasus merasa tak menginginkan Srintil
lagi. Rasus yang telah menjadi seorang Tamtama Tentara merasa srintil bukan
lagi sosok yang dipujanya dengan segala kesucian. Rasus ingin memiliki Srintil
seutuhnya, bukan seorang ronggeng yang dapat digilir oleh lelaki manapun. Hal
tersebutlah yang membuat rasus meninggalkan Srintil dan lebih memfokuskan
dirinya menjadi seorang Tentara. Srintil patah hati, tak ada semangat hidup
lagi semenjak di tinggal oleh Rasus sosok lelaki yang dicintainya. Tak ada lagi
keinginan untuk meronggeg, tak ada hasrat lagi untuk menjadi wanita yang dipuja
dan mampu mengendalikan perasaan lelaki manapun. Srintil hanya ingin rasus.
Ingin menjadi wanita yang seutuhnya wanita. Wanita yang suci dan ikut berperan
dalam kehidupan keluarga. Wanita yang mencintai dan dicintai oleh seorang
lelaki yang istimewa dihatinya.
Dihadapakan pada keadaan yang
membingungkan membuat ronggeng dukuh Paruk itu kian dilema. Di satu sisi dia harus
menjalankan perannya sebagai ronggeng yang dianggapnya sebagai amanat dari
leluhur eyang Secamenggala. Namun kembali lagi menjadi ronggeng sama saja
menjadi jalang, menjadi sundal, dan pelacur yang sebenarnya sangat melelahkan
bagi Srintil. Di sisi lain Srintil mendambakan cinta Rasus sekaligus bermimpi
menjadi wanita somhan dengan segala kesempurnaanya. Memiliki suami yang sah
serta keturunan yang dapat ia jadikan sandaran jika kelak ia telah berada di
usia senja.
Bagi Srintil meronggeng adalah takdir
yang harus dijalaninya. Bagi orang Dukuh paruk ada peribahasa yang menjadi
pedoman hidup yaitu Narimo Ing Pandhum,
atau menerima apapun takdir yang diberikan oleh Tuhan. Kita sebagai hamba hanya
perlu menjalaninya. Tak ada rasa bersalah dan nestapa walaupun harus hidup
miskin, terpuruk, sakit – sakitan dan hidup dengan segala perbuatan cabul yang
dihalalkan karena menganggap itu semua adalah bagian dari tradisi. Berbeda
dengan Rasus yang menilai bahwa menjadi ronggeng adalah pilihan yang sebenarnya
tak boleh dijalani oleh wanita manapun, apalagi oleh Srintil. Namun demikian
getar – getar cinta tetap tumbh di hati Rasusu dan Srintil yang membuat
keduanya tetap memikirkan satu sma lain walau sedang berjauhan.
Kebodohan dan kemiskinan Dukuh Paruk
menjadi jalan bagi oknum – oknum komunis yang kala itu ingin menguasai
Indonesia untuk merekrut pengikut. Kesenian dijadikan sebagai alat, dan
kemiskinan sebagai jalan untuk semakin melebarkan paham komunis mereka. Mala
petaka menimpa dukuh Paruk ketika pergantian pemerintahan membuat kebijakan
untuk memberantas keberadaan komunisme di Indonesia. Semua yang terlibat di
dalamnya ditangkap dan diadili menurut hukum yang berlaku kala itu. Dukuh paruk
pun mendapat gilirnnya setelah peristiwa pengrusakan makan Eyang Secamanggala
yang membuat hati warganya teroyak dan terluka sangat dalam, penangkapan atas
warga termasuk para penabuh calung sekaligus ronggennya yang dianggap terlibat
dengan komunisme semakin menambah nestapa pada kehidupan Dukuh Paruk.
Setelah beberapa bulan ditahan warga
dukuh Paruk kembali. Namun ada kejanggalan, Srintil sang ronggeng kebanggaan
tak ikut pulang. Hal itu terjadi karena ia masih harus menjalani proses
peradilan. Dalam tahanan Srintil mendapat perlakuan berbeda dibandingkan dengan
tahanan sipil yang lain karena ia cantik dan seorang ronggeng. Tidak jarang hal
itu dimanfaatkan oleh orang dalam lapas tahanan. Srintil bisa plesiran pergi
bersama laki – laki yang hendak membelinya dan hal tersebut semakin mengoyak
harga diri srinti, yang sudah mengidam – idamkan menjadi seorang wanaita
somahan. 2 tahun berselang akhirnya Srintilpun dibebaskan
Srintil masih harus menjalani wajib
lapor karena dia bebas dengan syarat seperti itu. Baginya dapat kembali ke
Dukuh Paruk saja sudah merupakan anugerah baginya. Kembalinya Srintil sekaligus
membawa perubahan bagi dirinya. Tak ada lagi keinginan menjadi perempuan jalang
yang diinginkanya hanyalah menjadi wanita somahan yang memiliki suami dan anak
yang sah dan mencintainya. Hari Sintil di lambungkan lagi oleh cinta sejak
kedatangan Bajus ketua Proyek waduk yang dibangun di dekat Dukuh Paruk. Tibalah
kemajuan menyentuh pedukuhan yang terpencil itu.
Srintil jatuh cinta kepada Bajus, bayang
– bayang Rasus mulai menghilang seiring berjalannya waktu. Bersama Bajus tak
ada lagi yang perlu dikhawatirkan olehnya. Perlindungan, perhatian, dan
penghargaan atas dirinya di dapatkan dari sosok lelaki itu. Hingga akirnya hati
Srintil kembali hancur berkeping – keping hingga membuatnya kehilangan akal
sehatnya. Hal itu terjadi akibat perbuatan Bajus yang menawarkannya pada
Sesorang yang berperan pada karirnya sebagai pemborong. Kembalinya Rasus ke
dukuh paruk memberikan secerca harapan bagi Srintil. Dibawanya Srintil untuk
disembuhkan sekaligus niatnya menyembuhkan hatinya yang telah hancur oleh
harapan yang tak kunjung tercapai. Memberikan cinta dan kasihnya yang pernah ia
sesali ke pada seseorang yang dipujanya, dicintainya, dan bagian dari hidupnya.
Novel fiksi yang dikategorikan sebagai
bacaan sastra berat ini menggunakan bahasa yang komunikatif dan halus sehingga
dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca meskipun banyak diantara meraka
tidak memiliki pengetahuan sastra yang tinggi. Penggambaran tentang sosok
Srintil juga terbilang sangat detail. Kewanitaannya didiskripsikan dengan
sangat jelas, yang meliputi ciri – ciri, karakter, perasan sekaligus sifat yang
menggambarkan diri seorang wanita yang memiliki banyak keunikan. Keinginan
untuk dipuja, menjadi pusat perhatian, dicintai, mencintai, dihargai dan
dilibatkan dalam setiap aspek kehidupan di tuliskan dengan sangat gamblangnya
sehingga pembaca akan dengan mudah mengimajinasikan sosok Srintil.
Novel
ini juga sukses membawa kita untuk mengenang kembali peristiwa komunisme pasca
kemerdekaan yang hamper memporak porandakan Indonesia. Tak haya itu novel ini
juga dapat membuat kita belajar bahwa manusia yang bodoh, tak mau belajar, dan
tak mengenal agama dengan benar bagi tiang tanpa penyangga yang akan segera
ambruk tertarik oleh grafitasi bumi. Begitupula yang terjadi pada warga Dukuh
Paruk, hingga membuat mereka teroyak dan terluka hingga sangat mendalam. Novel
ini juga dapat dijadikan sarana perenungan bahwa bangsa ini telah melampaui
jalan yang panjang untuk menghirup udara kemerdekaan yang telah diperjuangkan
denga banyak pengorbanan. Sehingga kita sebagai kaum muda harus senantiasa
menjaga eksistensinya.
Kekurangan
dari novel ini adalah pengadaan istilah cabul serta sumpah serapah yang banyak
terdapat di dalam nya. Bagi pembaca yang memiliki pengetahuan sastra yang mumpuni
hal semacam ini mungkin tak akan menimbulkan masalah krena merupakan bagian
dari adat masyarakat Dukuh Paruk dan keunikan bahasa, namun bagi pembaca yang
tidak memiliki latar belakang sastra akan menimbulkan polemik kerana dianggap
kurang sopan dan tidak layak dibaca oleh kaum muda.
Novel
ini juga menghalalkan persundalan serta perzinaan antar wagra dukuh paruk.
Terbukti ada bagian awal buku digambarkan obat bagi seseorang yang mandul
adalah lingga atau liang tetangga.
Dapat diartikan bahwa seorang suami/ istri yang madul dapat berhubungan kelamin
dengan tetangganya agar dapat memperoleh keturunan. Aturan seperti itu mungkin
tidak masalah bagi orang – orang yang masih mempercayai hokum adat, namun bagi
masyarakat modern hal semacam itu akan menimbulkan polemik berkepanjangan.
Selain itu kepercayaan akan adat istiadat yang tinggi sehingga menolak
kebudayaan baru yang masuk dapat memunculkan sikap etnosentrisme bagi
seseorang.
Menjadi
bahan pembanding adalah film Sang Penari yang menjadikan trilogi novel Ronggeng
Dukuh Paruk sebagai inspirasi yang berhasil masuk sebgai kategori film Terbaik
pada tahun 2011 yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah. Film ini menceritakan
kisah cinta antara dua insan yang terlahir di Dukuh Paruk yang memiliki
perbedaan paham dalam kehidupan. Kisah cinta antara Srinril sebagai seorang
Ronggeng dan Rasus sebagai Tentara, yang menginginkan Srintil sebagai wanita
yang seutuhya wanita bukan sebagai Ronggeng yang bisa dinikmati raganya oleh
lelaki manapun. Film ini bersetingkan tahun 65an dan diselingi dengan peristiwa
G 30 September.
Meskipun
menjadi inspirasi film tersebut banyak cerita – serita yang tidak divisulkan
dalam film tersebut. Terlebih lagi setelah dicermati lebih dalam lagi banyak
terjadi perbedaan antara film dan novel. Seperti penggabaran Srintil yang dinobatkan menjadi
seorang ronggeng pada usianya yang menginjak 11 tahun di versi novelnya. Namun
pada versi film sosok Srintil dinobatkan menjadi ronggeng saat menginjak usia
dewasa.
Penggambaran
sosok Bajaus lelaki yang juga pernah mengisi hati srintil juga ditiadakan dalam
filmnya. Meskipun dikategorikan dalam film terbaik, Sang Penari belum cukup
mampu menggambarkan trologi novel Ronggeng Dukuh Paruk dengan sangat gamblang.
Ronggeng dukuh paruk merupakan Trilogi
penyatuan 3 novel yang terkenal selama 22 tahun karya Ahmad Tohari yaitu
Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala.
Menceritakan kehidupan masyarakat pedukuhan yang tepencil, bodoh, cabul, dan
sakit – sakitan. Berserting tahun 65an dan diselingi peristiwa G 30 sseptember.
Kisah cinta yang penuh tantangan dan rintangan menguri kesedihan dan perjuangan
demi sebuah kebahagiaan. Perbedaan paham antara anggapan diri Sirntil sebagai
sosok wanita jalang atau somahan menjadi sumber konflik yang mengiasi kisah
ini.
