GORESAN – GOREAN TINTA PERJALANAN
HIDUPKU
Ellysa Risnawati (A310120125)
Ayah dan Ibu Adalah Guru Hidupku
Namaku
Ellysa Risnawati. Lahir pada tanggal 30 Mei tahun 1994. Aku lahir dari pasangan
suami istri bernama Muntolib dan Trisula Handayani. Sepasang suami istri yang
menurutku sangat luar biasa dalam mendidik putra – putrinya. Pasangan yang
dengan segenap jiwa dan raga mengais risky yang halal demi menghidupi buah
hatinya. Dalam asuhan ayah dan ibu aku tumbuh dalam keluarga sederhana namun
bahagia. Ayah selalu berusaha memenuhi keingininan anaknya karena ayah adalah
tipikal orang yang selalu ingin menjadi ayah yang baik dengan cara menuruti
setiap keinginan anaknya. Mungkin bagi ayah memanjakan putra dan putrinya
adalah sebagai tanda syukur kepada Allah atas karuniaNya karena telah diberi
kepercayaan menimang seorang anak. Ayah adalah seorang pekerja keras dan sangat
sabar. Bahkan ayah cenderung pendiam. Berbeda dengan ibu, beliau adalah sosok
yang tegas namun bijak dalam mengambil keputusan. Seolah sikap ibu ini
mengimbangi sikap ayah yang lebih lunak terhadap anak – anaknya.
Ayah
menurut pandanganku merupakan sosok yang taat beragama. Terbukti sejak kecil
aku mulai diperkenalkan dengan agama yang kami peluk. Sejak aku umur 5 tahun,
aku mulai diajarkan solat dan mengaji, bahkan saat tiba bulan Ramadhan ayah
mengajarkan aku untuk latihan berpuasa. Lain lagi dengan ibu, beliau seorang
guru Matematika. Beliaulah yang mengajariku hal – hal yang bersifat akademis.
Ibu selalu menjadi professor pertamaku saat aku kesulitan megrjakan PR yang
diberikan oleh guru di sekolah. Dengan sabarnya dia menjawab setiap kesulitan
yang aku tanyakan padanya. Ayah dan ibu juga sering memberikan nasihat –
nasihat yang baik untuk bekal hidupku kelak. Jika aku melihat beliau aku seperti
melihat pejalanan yang berat dan berhasil mereka tempuh dengan baik kerana
memiliki keyakinan. Ayah bilang, jika engkau yakin dan berusaha serta diiringi
doa, Allah pasti akan selalu memberikan jalan yang mudah bagi hidupmu.
Ayah
dan ibu adalah guru hidupku. Guru yang mengajarkan bagaimana dan untuk apa aku
hidup di dunia ini. Ayah juga sering menceritakan kisah – kisah perjalanan
hidup Nabi Muhammad. Beliau ingin sekali jika anak – anaknya dapat menjadikan
Nabi Muhammad sebagai teladan dalam hidup. Mungkin karena inilah nama kakak
laki – lakiku menggunakan Muhammad sebagai nama depannya. Ayah bermimpi
memiliki cita – cita yang luhur. Beliau ingin menjadi ayah sekaligus suami yang
baik bagi anak dan istrinya, oleh karenanya penting baginya memberikan bekal
hidup yang baik untukku dan kakak – kakakku agar tidak salah jalan nantinya.
Bagiku
memiliki mereka adalah harta sekaligus karunia terbesar dalam hidupku.
Terimakasih untuk ayah dan ibu telah menjadi lentera dalam perjalanan panjangku
di dunia ini. Aku sangat menyayangi kalian.
Riak – Riak Kecil Mulai
Menghiasi
Aku
adalah seorang anak yang cukup sulit menerima masukan dari orang lain. aku
enggan menerima kritik dari orang lain. karena itu juga mungkin aku tumbuh
menjdi anak yang paling suka membantah dan tidak sepaham dengan orang tuaku
dari pada saudara – saudaraku yang lain. aku juga seorang pribadi yang sulit
untuk mengalah pada siapapun karena aku merasa selau peling benar dalam
berpendapat.
Waktu
aku masih SD aku sering bertengkar dengan kakak laki – lakiku, entah mengapa
aku merasa jika abangku yang satu ini sangat suka mengusiliku. Tentunya hal itu
selalu membuatku marah. Namun setiap aku mengadu pada ibu berharap mendapatkan
pembelaan, ibu selau saja menyalahkanku. Aku pikir ibu pilih kasih, namun
lambatlaun akau mulai mengerti bahwa sikap ibu yang seperti itu sebenarnya
ingin mengajarkan aku sabar dan sedikit mengalah. Ibu juga pernah berkata bahwa
sikap abangku yang sering menggodaku itu adalah ungkapan rasa perhatiannya
padaku. Setelah dewasa aku ridu digoda oleh abangku karena aku harus berpisah
darinya untuk menuntut ilmu di kota Solo.
Tak
hanya konflik dengan keluarga, aku juga sering mengalami konflik dengan teman –
temanku karena sifat egoismeku ini yang berlebihan. Pada waktu SMA aku bahkan
pernah tak bertegur sapa dengan sahabatku selama satu bulan hanya karena
masalah sepele. Dan itu juga yang membuatku berfikir bahwa sikapku selama ini
salah. Seiring dengan berjalannya waktu akupun mulai mencoba untuk
menghilangkan sifat burukku ini. Setidaknya sekarang aku lebih bisa
mengendalikan diriku dari pada dulu. Namun sekuat – kuatnya aku mencoba
mengendalikan diriku, masih saja rasa mengganjal dihatipun muncul. Apa lagi
saat aku berselisih paham dengan kekasihku. Lebih sering aku tak akan mau
mengalah. Mungkin karena itulah yang membuat kami sering bertengkar. Dia
memiliki sifat yang kekanak – kanakan sedangkan aku lebih keras dan egois. Tak
khayal saja tiap hari percekcokan selalu menghiasi jalinan asmara yang sedang
kami lalui bersama.
Aku dan Keluargaku Dari
Penglihatanku
Seperti yang aku
utarakan diawal, aku adalah seorang gadis yang terlahir dalam keluarga yang
sederhana di kota Blora. Aku memiliki karakter atau sifat yang keras, egoisme
yang tinggi serta aku mudah marah jika sutau hal tidak berjalan sesuai
rencanaku. Namun setelah dewasa teman – teman berpendapat bawa aku adalah sosok
yang sangat dewasa dan nyaman untuk diajak curhat. Kusadari pula bahwa aku
telah banyak berubah. Lebih sedikit pendiam dan malas bergaul. Entah mengapa
semenjak kuliah aku jadi orang yang tak ingin berlama – lama berbincang dengan
teman. Namun jika ada seorang dari mereka memintaku untuk menjadi teman sharing
maka dengan senang hati aku akan menerimanya. Aku sangat menyukai artis – artis
dan budaya dari Korea. Entah mengapa aku selalu tertarik dengan keunikan
mereka. Idolaku adalah penyanyi sekaligus aktor Kim Hyun Joong dan Jung Yong
Hwa dari CN Blue. Hobiku adalah menyanyi dan membaca buku. Entah mengapa dalam
keadaan seperti apapun aku selalu menyanyi. Seolah menghibur diri menyanyi jadi
alternatif saat aku merasa galau. Namun jika aku menyayi lagu korea maka teman
– temanku akan memprotesnya karena tidak tahu arti dari lirik lagu yang aku
nyanyikan. Aku penyuka puisi dan cerpen. Banyak karya – karya yang telah aka
buat, namun aku belum memiliki keberanian untuk menerbitkannya pada sebuah
redaksi. Karena ini pula lah aku memlih jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia.
Aku suka sastra dan aku ingin menjadi guru. Sebuah cita – cita yang mulia
tentunya.
Berbeda
dengan anak pertama dari ayah dan ibuku, yang tak lain adalah kakak
perempuanku. Namanya Anis Arum Nuraeni, panggilannya mbak Anis. Dia terlahir
pula di kota Blora, namun di dibesarkan di kota Pati karena sejak umur 5 tahun
dia diasuh oleh Budhe Dwi, kakak perempuan ibuku. Mbak anis adalah sosok yang
sedikit galak namun suka bercanda. Dia juga menyukai hal – hal yang berbau
Inggris dan Amerika. Band faforitnya adalah Linking Park, dia juga telah lulus
dari Akademi Keperawatan Blora sekitar 4 tahun yang lalu. Kini mbak Anis
bekerja di Dinas Kesehatan kabupaten Blora sebagai staff. Usianya 23 tahun,
mungkin dia akan segera menikah karena telah memiliki calon pendamping hidup.
Semoga saja cepat terjadi. Mbak Anis memiliki sifat yang sabar bisa dibilang
sering mengalah pada adik – adiknya. Namun terkadang dapat menjadi sangat
pemarah saat sesuatu berjalan tak sesuai dengan kehendaknya.
Muhammad
Yusuf Kurniawan atau akrab kusapa Bang Yoss. Adalah kakak keduaku sekaligus
kakak laki – lakiku. Lahir pada tanggal 24 Maret sekitar 20 tahun yang lalu.
Abangku yang sering mengusiliku namun sangat menyayangiku. Aku teringat saat
dia baru saja dapat mengendarai sepeda orang pertama yang diboncengkannya
adalah aku. Abangku juga adalah orang pertama yang membelikanku Smart phone
dengan uang hasil jerih payahnya. Staff pendapatan di kantor DPPKAD kabupaten
Blora inilah yang menjadi salah satu saksi hidupku. Memiliki sifat yang mudah
bergaul, humoris,serta suka menyanyi. Merupakan salah satu dari yang paling
disayang oleh ibu diantara kami para saudara – saudaranya. Dia memiliki sifat
percaya diri yang tinggi, selalu berkata bahwa dirinya sangat tampan hingga
banyak anak gadis yang menyukainya karena pesonanya. Mendengar kata – kata itu
aku jadi mual. Dia tak suka suatu tempat yang kotor dan tidak rapi. Anehnya dia
sendiri adalah orang yang kurang rapih dan pemalas, apa lagi jika diminta
membersihkan rumah atau kamarnya sendiri. Selalu saja ada alasan yang keluar
dari mulutnya. Meski begitu aku menganggapnya sebagai abang terbaik di dunia.
Sosok
luar biaa selanjutnya yang akan aku ceritakan adalah ayahku. Di awal telah ada
sedikit penjelasan, bahwa ayaku benama Muntolib. Beliau adalah pria yang lahir
di kota Blora pula tepatnya pada taggal 21 April tahun 1964. Seorang PNS di Kantor
SETWAN kabupaten Blora ini adalah Pria yang humoris, pekerja keras, namun
sedikit tertutup. Dia juga tipikla pria yang soleh, terbukti pernah menempuh
pendidikan di pondok pesantren ketika beliau duduk di bangku SMA. Menjadi ayah
sekaligus suami yang luar biasa dalam pandanganku. Aku ingat ketika Idul Fitri
beberapa tahun yang lalu ketika keadaan ekonomi keuarga sedang sedikit
terpuruk, ayah tak memebeli sehelaipun pakaian baru untuk merayakan hari besar
umat Islam tersebut. Namun bagi istri dan juga anak – anaknya dibebaskan
memilih dan membeli baju baru di toko manapun sesuai selera masing – masing.
Hal itu juga terjadi pada beberapa kesempatan. Dari sikap ayah yang seperti itu
aku berpendapat bahwa ayah adalah sosok yang dermawan dan mau mengalah demi
kebahagian keluarganya. Namun ada sifat buruk ayah yang dibenci oleh seluruh
anggota keluarga. Yaitu jika ayah mengalami masalah atau kesulitan maka beliau
tak akan pernah membaginya dengan keluarga. Dia akan menyelesaikan masalah itu
sendiri walu berat bagi dirinya. Bagiku ayah tetaplah sosok pria paling luar
biasa di dunia ini. Maka akupun akan menjadi anak yang luar biasa untuk ayahku
tercinta.
Belahan
jiwa ayah adalah ibuku. Wanita yang lahir dikota yang sama denganku ini
memiliki sifat yang keras, penuh pertimbangan, cermat dan penuh kasih saying
kepada keluarga. Wonder woman kami ini lahir pada tanggal 17 April tahun 1963
ini memang satu tahun lebih tua dari ayah. Namun kedewasaanya jauh lebih tinggi
dari pada beliau. Ibuku atau yang sring aku panggil mamah ini adalah sorang
guru Matematika di salah satu sekolah swasta di kabupaten Blora. Kata murid –
muridnya mamah adalah guru yang galak saat mengajar, untuk yang satu ini aku
sangat sependapat. Tetapi aku percaya bahwa sikap beliau yang keras inilah yang
digunakan untuk mendidik putra – putrinya menjadi insane yang mandiri dan
tegar. Wataknya yang seperti ini mungkin diperoleh dari masa kecilnya. Maklum
keadaan nenek dulu saat membesarkan ibu bisa dibilang sangat memprihatinkan.
Mamah bisa dibilang pahlawan dalam keluarga karena keberhasilan yang dicapai
oleh anak dan suaminya tak lepas dari perannya yang sangat luar biasa sebagai
seorang ibu. Jika aku boleh mengatakan, aku sangat bangga dilahirkan dari rahim
ibu yang sangat istimewa. Mamah dek Lisa sangat mencintaimu.
Kebahagiaan itu Datang
Saat Kami Bersama
Bersyukur adalah kata –
kata ajaib yang penuh dengan sejuta makana. Kata ayah dan ibu keluarga kami
selalu bahagia karena kami selalu bersyukur dengan apa yang diberikan oleh
Allah. SWT. Bagi kami saat serkumpul bisa saling bercerita dan mengobrol adalah
saat yang paling indah. Kami dapat saling bertukar pikiran, saling member
nasihat serta saran terbaik bagi pribadi masing – masing. Hidup sederhana itu
sebuah anugrah kata mamah. Banyak orang yang hidup dengan bergelimangan harta
namun selau merasa gelisah dan tak bahagia. Apa lagi yang dicari orang yang
hidup di dunia ini jika tak kebahagiaan? Untuk apa harta jika selalu saja
merasa sengsara. Meski banyak kekurangan dalam keluaraga kami, aku merasa
sangat bahagia karena memiliki ayah, ibu, mbak Anis dan bang Yoss adalah
karunia terbesar dalam hidupku. Tak ada harta yang paling berharga selain
keluarga, itu adalah keyakinanku. Akupun percaya jika kita saling menjaga
keharmonisan dengan kaluarga, teman, dan saudara maka sebesar apaun masalah
yang akan kita hadapi akan terasa ringan karena kita memiliki mereka.
Hari ini aku menerima pesan singkat
dari ibu yang memebrikan nasihat yang sangat berguna. Sekali lagi aku sangat
berterimakasih pada ibu serta seluruh keluargaku. Mereka adalah penunjang
setiap tahap keberhasilanku. Tanpa mereka aku tak akan bisa menjadi seperti
ini. Berkuliah di Universitas yang cukup ternama di Indonesia dan menjadi anak
yang cukup mampu di andalkan oleh ayah dan mamah. Tak ada imbalan yang paling
indah selain kerja kerasku agar mendapat IPK yang baik serta menjai lulusan
yang mampu diandalkan dan guru yang teladan. Saat ini mungkin hanya sebuah
harapan. Namun aku percaya dengan segala kekuatan dan keuletan aku akan mampu
mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan.