Halaman

Selasa, 12 Maret 2013

RANGKUMAN FONETIK


RANGKUMAN FONETIK
BAB I
PENGANTAR

            Linguisrik dipelajari dari segi mikrolinguistik artinya kajian itu tanpa melibatkan ilmu yang lain. Mikro linguistic adalah lingkup linguistic yang mempelajari baha dalam rangka kepentingan ilmu bahasa itu sendiri tanpa mengatkan dengan ilmu yang lain. Fonetik sebagai cabang linguistic deskriptif. Fonetik interdisipliner dan fonetik terapan. Sebagai interdisipliner rupanya dapat dijadikan bahan kajian karena untuk kepentingan penyiapan diri sebagai calon guru bahasa.
            Fonetik sebagai alat bantu linguistic dan merupakan ilmu yang sangat berkembang. Fonetik interdisipliner yaitu subdisiplin linguistic yang mempelajari bunyi bahasa dalam kaitanya dengan ilmu yang lain, misalnya fisikan dan music. Fonetik terapan adalah subdisiplin linguistic yang mempelajari bunyi bahasa dengan penggunaanya di dalam praktik, misalnya vocal di dalam seni drama, seni music dan untuk pembetulan ucapan anak – anak yang pelat di lidah (Soeparno, 2000:25-26).

BAB II
ILMU BUNYI BAHASA SEBAGAI SUBKAJIAN LINGUISTIK

            Linguistik didefinisikan sebagai kajian bahasa secara ilmiah. Bahasa adalah sesuatu yang benar dan sudah semestinya. Bahasa digunakan untuk berkomunikasi dan bukan sesuatu yang dipikirkan. Linguistik sebagai ilmu bahasa dibagi dalam sub atau bidang, meliputi bidang fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, semantic. Khusus kajian bunyi bahasa (bidang fonetik) dijelaskan secara terini dalam bab – bab selanjutnya Crytal (1993 dalam Yusuf, 1998:2).

BAB III
FONETIK : KAJIAN BUNYI – BUNYI BAHASA

Bahasa terdiri atas bunyi dan susunan bunyi. Kajian tentang bunyi, baik bunyi secara umum maupaun bunyi suatu bahasa tertentu disebut fonologi. Berkenaan segmen bunyi yang erat dan kenyataan berbahasa melibatkan bidang study yang erat dan menjadi bagian dan tak terelakkan dalam analisis fonologi dan psikologi (Kridalaksana, 1993:56). Bahasa adalh system lambing bunyi. System bahasa itu berupa lambing yang wujudnya be menjdi rupa bunyi. Bunyi sukar dibedakan dengan suara. Bunyi adalah kesan pada pusat syaraf sebagai akibat dari getaran gedang telinga yang bereaksi karena perubahan – perubahan dalam getaran udara (Kridalaksana, 1993:27). Suara bersumber pada gesekan atau benturan benda – benda. Suara juga bersumber pada alat bicara pada hewan dan manusia.
Study fonetik umumnya dibagi tiga bagian yaitu:
1.      Fonetik akustik, adalah bunyi ujaran itu dapat didengar karena ujaraan itu adalah suatu peristiwa fisik.
2.      Fonetik auditoris, adalah jenis fonetik yang mengkaj proses penerimaan bunyi ujaran oleh telinga si pendengar.
3.      Fonetik auditoris, adalah jenis fonetik yang terpenting dan bagian yang memberikan sumbangan bagi kajian ilmu bahasa.

Manfaat fonetik terdiri atas dua manfaat yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat k akan menjadi bekal utama dalam rangka mengembangkan dirinya sebagai ilmuwan. Sedangkan manfat praktis bagi seseorang. Sesorang yang berpotensi dan mendayagunakan kemampuan lisan patut menguasai fonetik.

BAB IV
PROSES PRODUKSI BUNYI BAHASA

Kecepatan bunyi yang merambat di udara yaitu 1.224 km/jam. Bunyi melambat merambat bila suhu dan tekanan udara lebih rendah missal di udara tipis (dingin) yaitu pada ketinggian lebih dari 11 km maka kecepatan bunyi hanya 1.000 km/jam. Bunyi kecepatan merambatnya di air sebesar 5.400 km/jam. Bunyi adalah pemanfaatan atau gelombang longitudinal yang merambat melalui medium. Medium (paerantara) berupa zat cair, padat, gas. Suara adalah gabungan dari berbagai sinyal atau frekuensi. Atau frekuensi adalah dalam Hertz (Hz) atau amplitude (kenyarinagn bunyi) diukur dengan decibel. Manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi ditangkap telinga yaitu saat getaran di udara (medium) sampai gendang telinga. Batas frekuensi bunyi yang dapat di dengar oleh manusia sekitar 20Hz (infrasonic) sampai 20 Khz (ultrasonic).

BAB V
ALAT UCAP MANUSIA

Nama – nama alat ucap manusia yang digunakan untuk berbicara diantaranya adalah paru – paru (lung), batang tenggorokan (trachea), laring (larynx), pita suara (vocal cord), krikoid/faring (cricoids), akar lidah (thyroid), pangkal lidah (arytenoids), tengah lidah (wall of pharynx), daun lidah (epiglottis), anak tekak (root of the tongue), langit – langit lunak (back of the tongue), langit – langit keras (middle of the tongue), alveolae (blade of the tongue), gigi atas (apex) gigi bawah (velum), bibir bawah (soft plate), bibir bawah (hard plate), mulut (alveolum), rongga mulut (upper teeth), rongga hidung.

BAB VI
BUNYI SEMENTAL

Bunyi segmental meliputi bunyi vokoid dan bunyi kontiod. Vokoid sering sekali disebut dengan monoftong/vocal murni/pure vowels. Bunyi vocal tunggal yang membentuk denagn kwalitas alat bicara dalam sebuah suku kata. Bunyi segmental adalah bunyi bunyi bahasa yang dapat disegmentasikan.


BAB VII
BUNYI SUPRASEGMENTAL


Bunyi bahasa dapat dibedakan menjadi dua jenis, pertama bunyi segmental dan bunyi suprasegmental. Bunyi suprasegmental sangat berperan dalam bahasa nada. Bunyi suprasegmental adalah unsure segmental yang bekerja atau berlangsung sewaktu bunyi segmental diproduksi (Chaer,2009:53).

      Panjang/kuantitas/durasi
                  Lamanya bunyi diucapkan. Buny segmental waktu diucapkan aat ucap dipertahankan cukup lama, pastilah disertai bunyi suprasegmental dengan cirri prosodi panjang. Bunyi ini t
Idak bersifat fonemis dalam bahasa Indonesia tidak membedakan makan kata.

Jeda/persendian
                  Jeda menyangkut pemberhentian bunyi dalm bahasa.

Nada/pitch
                  Nada menyangkut tinggi rendahnya suatu bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi,pastilah dibarengi dangan bunyi suprasegmental dengan cirri prosodi nada tinggi.


BAB III
DESKRIPSI BUNYI BAHASA

Bagian studi fonetik yang perlu mendapatkan perhatian dan pemahaman  adalah membuat deskripsi bunyi bahasa. Bunyi bahasa dalam studi linguistic bisa disebut dengan mengucapkan bunyi bahasa yang bersangkutan tetapi dengan mengucapkan unsure deskripsi bunyi bahasa itu.

      Kemaimpuan menguasai bunyi ditunjukan dengan membuat sedkripsi setiap bunyi bahasa. Deskripsi ini diperlukan untuk mememnuhi kebutuhan pengenalan terhadap bunyi bahasa. Bunyi bahasa dapat diklasifikasikan ke dalam bunyi fokal, bunyi konsonan, dan bunyi diftong.


BAB IX
TRANSKRIPSI FONETIK

      Bab ini merupakan bab terakhir yang menguraikan tentang aktifitas seseorang yang berada dalam bidng fonetik. Mahasisiwa yang mengikuti perkuliahan fonetik sampai pada pembentukan ketrampilan menuliskan ujaran yang didengar kedalam wujud tulisan.

      Ojek fonetik adalah bunyi bahasa, bunyi bahasa dikaji tanpa memperhatikan fungsi bunyi sebagai pembeda makna. Bunyi bahasa itu jumlahnya tidak terbatas. Kajian tentang bunyi bahasa dibekali dengan anggapan bahwa bunyi bahasa bunyi itu bervariasi. Cirri variasi bunyi dapat diketahui dengan tulisan secara fonetik.

      Transkripsi fonetik dibuat dengan seakurat mungkin, namun tidak ada system tulisan yang sempurna. Kemahiran menuliskan ujaran bagi seorang guru dalam mengadakan aktifitas pembelajaran bahasa.