RANGKUMAN
FONETIK
BAB
I
PENGANTAR
Linguisrik dipelajari dari segi mikrolinguistik artinya
kajian itu tanpa melibatkan ilmu yang lain. Mikro linguistic adalah lingkup
linguistic yang mempelajari baha dalam rangka kepentingan ilmu bahasa itu
sendiri tanpa mengatkan dengan ilmu yang lain. Fonetik sebagai cabang
linguistic deskriptif. Fonetik interdisipliner dan fonetik terapan. Sebagai
interdisipliner rupanya dapat dijadikan bahan kajian karena untuk kepentingan
penyiapan diri sebagai calon guru bahasa.
Fonetik sebagai alat bantu linguistic dan merupakan ilmu
yang sangat berkembang. Fonetik interdisipliner yaitu subdisiplin linguistic
yang mempelajari bunyi bahasa dalam kaitanya dengan ilmu yang lain, misalnya
fisikan dan music. Fonetik terapan adalah subdisiplin linguistic yang
mempelajari bunyi bahasa dengan penggunaanya di dalam praktik, misalnya vocal
di dalam seni drama, seni music dan untuk pembetulan ucapan anak – anak yang
pelat di lidah (Soeparno, 2000:25-26).
BAB
II
ILMU
BUNYI BAHASA SEBAGAI SUBKAJIAN LINGUISTIK
Linguistik
didefinisikan sebagai kajian bahasa secara ilmiah. Bahasa adalah sesuatu yang
benar dan sudah semestinya. Bahasa digunakan untuk berkomunikasi dan bukan
sesuatu yang dipikirkan. Linguistik sebagai ilmu bahasa dibagi dalam sub atau
bidang, meliputi bidang fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, semantic.
Khusus kajian bunyi bahasa (bidang fonetik) dijelaskan secara terini dalam bab
– bab selanjutnya Crytal (1993 dalam Yusuf, 1998:2).
BAB
III
FONETIK
: KAJIAN BUNYI – BUNYI BAHASA
Bahasa terdiri atas
bunyi dan susunan bunyi. Kajian tentang bunyi, baik bunyi secara umum maupaun
bunyi suatu bahasa tertentu disebut fonologi. Berkenaan segmen bunyi yang erat
dan kenyataan berbahasa melibatkan bidang study yang erat dan menjadi bagian
dan tak terelakkan dalam analisis fonologi dan psikologi (Kridalaksana,
1993:56). Bahasa adalh system lambing bunyi. System bahasa itu berupa lambing
yang wujudnya be menjdi rupa bunyi. Bunyi sukar dibedakan dengan suara. Bunyi
adalah kesan pada pusat syaraf sebagai akibat dari getaran gedang telinga yang
bereaksi karena perubahan – perubahan dalam getaran udara (Kridalaksana,
1993:27). Suara bersumber pada gesekan atau benturan benda – benda. Suara juga
bersumber pada alat bicara pada hewan dan manusia.
Study fonetik umumnya
dibagi tiga bagian yaitu:
1. Fonetik
akustik, adalah bunyi ujaran itu dapat didengar karena ujaraan itu adalah suatu
peristiwa fisik.
2. Fonetik
auditoris, adalah jenis fonetik yang mengkaj proses penerimaan bunyi ujaran
oleh telinga si pendengar.
3. Fonetik
auditoris, adalah jenis fonetik yang terpenting dan bagian yang memberikan
sumbangan bagi kajian ilmu bahasa.
Manfaat fonetik terdiri
atas dua manfaat yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat k akan
menjadi bekal utama dalam rangka mengembangkan dirinya sebagai ilmuwan.
Sedangkan manfat praktis bagi seseorang. Sesorang yang berpotensi dan
mendayagunakan kemampuan lisan patut menguasai fonetik.
BAB
IV
PROSES
PRODUKSI BUNYI BAHASA
Kecepatan
bunyi yang merambat di udara yaitu 1.224 km/jam. Bunyi melambat merambat bila
suhu dan tekanan udara lebih rendah missal di udara tipis (dingin) yaitu pada
ketinggian lebih dari 11 km maka kecepatan bunyi hanya 1.000 km/jam. Bunyi
kecepatan merambatnya di air sebesar 5.400 km/jam. Bunyi adalah pemanfaatan
atau gelombang longitudinal yang merambat melalui medium. Medium (paerantara)
berupa zat cair, padat, gas. Suara adalah gabungan dari berbagai sinyal atau
frekuensi. Atau frekuensi adalah dalam Hertz (Hz) atau amplitude (kenyarinagn
bunyi) diukur dengan decibel. Manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi
ditangkap telinga yaitu saat getaran di udara (medium) sampai gendang telinga.
Batas frekuensi bunyi yang dapat di dengar oleh manusia sekitar 20Hz
(infrasonic) sampai 20 Khz (ultrasonic).
BAB
V
ALAT
UCAP MANUSIA
Nama – nama alat ucap
manusia yang digunakan untuk berbicara diantaranya adalah paru – paru (lung),
batang tenggorokan (trachea), laring (larynx), pita suara (vocal cord),
krikoid/faring (cricoids), akar lidah (thyroid), pangkal lidah (arytenoids), tengah
lidah (wall of pharynx), daun lidah (epiglottis), anak tekak (root of the
tongue), langit – langit lunak (back of the tongue), langit – langit keras
(middle of the tongue), alveolae (blade of the tongue), gigi atas (apex) gigi
bawah (velum), bibir bawah (soft plate), bibir bawah (hard plate), mulut
(alveolum), rongga mulut (upper teeth), rongga hidung.
BAB
VI
BUNYI
SEMENTAL
Bunyi
segmental meliputi bunyi vokoid dan bunyi kontiod. Vokoid sering sekali disebut
dengan monoftong/vocal murni/pure vowels. Bunyi vocal tunggal yang membentuk
denagn kwalitas alat bicara dalam sebuah suku kata. Bunyi segmental adalah
bunyi bunyi bahasa yang dapat disegmentasikan.
BAB VII
BUNYI SUPRASEGMENTAL
Bunyi
bahasa dapat dibedakan menjadi dua jenis, pertama bunyi segmental dan bunyi
suprasegmental. Bunyi suprasegmental sangat berperan dalam bahasa nada. Bunyi
suprasegmental adalah unsure segmental yang bekerja atau berlangsung sewaktu
bunyi segmental diproduksi (Chaer,2009:53).
Panjang/kuantitas/durasi
Lamanya bunyi diucapkan. Buny
segmental waktu diucapkan aat ucap dipertahankan cukup lama, pastilah disertai
bunyi suprasegmental dengan cirri prosodi panjang. Bunyi ini t
Idak
bersifat fonemis dalam bahasa Indonesia tidak membedakan makan kata.
Jeda/persendian
Jeda menyangkut pemberhentian
bunyi dalm bahasa.
Nada/pitch
Nada menyangkut tinggi
rendahnya suatu bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan frekuensi
getaran yang tinggi,pastilah dibarengi dangan bunyi suprasegmental dengan cirri
prosodi nada tinggi.
BAB III
DESKRIPSI BUNYI BAHASA
Bagian studi fonetik
yang perlu mendapatkan perhatian dan pemahaman
adalah membuat deskripsi bunyi bahasa. Bunyi bahasa dalam studi
linguistic bisa disebut dengan mengucapkan bunyi bahasa yang bersangkutan tetapi
dengan mengucapkan unsure deskripsi bunyi bahasa itu.
Kemaimpuan
menguasai bunyi ditunjukan dengan membuat sedkripsi setiap bunyi bahasa.
Deskripsi ini diperlukan untuk mememnuhi kebutuhan pengenalan terhadap bunyi
bahasa. Bunyi bahasa dapat diklasifikasikan ke dalam bunyi fokal, bunyi
konsonan, dan bunyi diftong.
BAB IX
TRANSKRIPSI FONETIK
Bab ini merupakan bab terakhir yang
menguraikan tentang aktifitas seseorang yang berada dalam bidng fonetik.
Mahasisiwa yang mengikuti perkuliahan fonetik sampai pada pembentukan
ketrampilan menuliskan ujaran yang didengar kedalam wujud tulisan.
Ojek fonetik adalah bunyi bahasa, bunyi
bahasa dikaji tanpa memperhatikan fungsi bunyi sebagai pembeda makna. Bunyi
bahasa itu jumlahnya tidak terbatas. Kajian tentang bunyi bahasa dibekali
dengan anggapan bahwa bunyi bahasa bunyi itu bervariasi. Cirri variasi bunyi
dapat diketahui dengan tulisan secara fonetik.
Transkripsi fonetik dibuat dengan seakurat
mungkin, namun tidak ada system tulisan yang sempurna. Kemahiran menuliskan
ujaran bagi seorang guru dalam mengadakan aktifitas pembelajaran bahasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar